10 Hari Lagi
10 hari lagi, jika Tuhan menghendaki, acara itu akan terjadi. Acara yang akan mengubah hidup saya. Suatu transaksi agama dan hukum, perjanjian yang mengikat saya seumur hidup. Untungnya perjanjian itu dibuat dengan orang yang memang saya pilih, saya inginkan….Yang menjadi ganjalan adalah banyaknya kerumitan-kerumitan tak penting yang tidak saya harapkan…Kami yang punya acara, yang menjadi tokoh utama disini malah seperti menjadi korban, lelah dengan tuntutan-tuntutan keluarga dan keinginan-keinginan orang lain. Banyak kekecewaan-kekecewaan kecil yang kami alami. Tapi tetap saja tidak mengurungkan niat kami untuk tetap melaksanakannya.
Ketika saya menanyakan apa yang paling dia tunggu-tunggu dari acara ini, ternyata jawabannya sama dengan saya; ‘acara cepat selesai dan kami bisa pergi melarikan diri (lagi)’…berlibur bersama dan bersenang-senang di pulau favorit kami itu…Pernah tercetus dari diri saya untuk membatalkan semua ini dan menjadikannya jauh lebih sederhana, tapi keterikatan dengan orang tua dan keluarga, menjadikan hal itu tak mungkin dilakukan. Banyaknya konflik dan kekecawaan yang terjadi membuat trauma tersendiri buat saya. Saya hanya ingin semua cepat selesai, tidak ada lagi keinginan memiliki acara yang sempurna yang kata orang selalu kita harapkan terjadi sekali dalam seumur hidup kita…
Pernah sekali waktu saya bertanya dan menyesali; kenapa kita musti melakukan semua ini? Saya sudah terbiasa bersama dengannya selama 8 tahun tanpa ada ikatan itu? Kenapa justru semua persiapan-persiapan ini membuat masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya? Saya merindukan rasa nyaman tanpa beban yang telah kami alami sejak 8 tahun yang lalu. Saya merindukan kegiatan kami selama menjalani hari-hari kami; jalan-jalan di mal, malam minggu yang diisi dengan nonton tivi hingga larut malam dan hobi kami mengunjungi 21 untuk menjadi bagian dari orang-orang pertama yang melihat film terbaru yang tayang atau sekedar makan malam kecil di tempat-tempat favorit kami. Meskipun kegiatan kami memang tidak istimewa, tapi saya cukup senang menjalaninya bersamanya….Dialah yang berkeras untuk tetap melaksanakan transaksi yang menghalalkan hal-hal yang sebelumnya diharamkan…niat baik itu pun sebenarnya saya setujui. Tapi saya ingin ritualnya disederhanakan sedikit, itu saja. Terlepas dari tradisi dan kelaziman, yang terpenting adalah ‘janji’ itu…yang lain tidak.

