Maastricht Centrum
Seeing is believing. Itulah prinsip saya
ketika seseorang mengatakan bahwa sesuatu hal itu bagus. Berdasarkan cerita yang saya dengar,
Maastricht itu kota kecil yang bagus sekali. Populasinya yang mungkin hanya
sebesar Jakarta Selatan dan bangunan-bangunan tua hampir di seluruh sisi kota
membuat Maastricht menjadi kota yang unik. Jika seseorang bertanya; ‘dimana
saya bisa menemukan museum di Maastricht?’ Jawabannya adalah ‘Maastricht itu
adalah museum berbentuk kota’. Hal itu terbukti ketika saya keluar dari stasiun
Maastricht setelah menempuh perjalanan dengan kereta dari Schipol selama kurang
lebih 3 jam. Benar sekali, Maastricht memang bagus.
Diklaim
sebagai salah satu kota tertua dengan banyak sejarah, Maastricht merupakan
daerah aneksasi yang berada di Propinsi Limburg (penduduk lokal kurang menyukai
jika mereka dianggap adalah bagian dari Holland).
Demi
melihat suasana kotanya, saya diajak berjalan kaki menuju apartemen kami (+
1,26 km), menembus udara dingin sekitar 7-8 derajat celcius. Sempat shock juga karena suhu terakhir di
Jakarta bisa sampai 33 derajat celcius, hehehe. Dari stasiun melewati jembatan
besar (di Maastricht ada 4 jembatan besar peninggalan jaman dulu), bertemu
pusat kota, melewati Vrijthof (alun-alun kota) melihat Markt (area restoran dan
jajan) dan melintasi pertokoan modern tapi bertempat di gedung-gedung tua.
Unik.
Setelah
berhasil mengatasi shock karena
dingin (sebenarnya 8 derajat celcius tidak seberapa, tapi kostum dan angin di
jembatan tidak bisa saya antisipasi dengan baik sepertinya) dengan cara
memasang electric heater di dekat
muka, saya baru merasa nyaman (ditambah jetlag
yang baru mereda sekitar 2 minggu). Besoknya saya mencoba jalan-jalan sendiri.
Bermaksud melihat-lihat toko, dan saya menyukainya. Saya bisa menemukan
toko-toko modern seperti Zara, Mango, H&M, Vero Moda, V&D, Bodyshop,
Adidas etc tidak jauh dari apartemen (sekitar jalan Sporenstraat, dan Spillstraat).
Jalan batu dan orang-orang yang ramah (dan suka bergaya juga) membuat saya kerasan.
Toko-toko disini (saya rasa di beberapa negara eropa lainnya juga) buka pada
hari Senin- Sabtu. Senin mulai jam 12 siang (kecuali supermarket) sampai jam 6
sore. Selasa-Rabu jam 11 siang sampai jam 6 sore, Kamis jam 11 siang sampai jam
9 malam, Sabtu jam 11 siang sampai jam 6 sore. Minggu tentu saja tutup
(usahakan belanja makanan hari Sabtu atau sebelumnya kalau tidak mau kelaparan
ketika akhir minggu). Tapi hari Minggu pertama tiap bulannya toko dibuka secara
khusus.
Jalan sedikit
dari area pertokoan modern, terdapat toko buku besar yang didalamnya terdapat
café. Uniknya toko ini berada dalam bangunan gereja tua yang sudah tidak
dipakai untuk ibadah. Namanya Selexys Dominica, posisinya di Amadeusplein
(depan toko pakaian Zara). Hebatnya desain bangunan gereja (sampai lukisan di
langit-langitnya) tetap dipertahankan. Area altar gereja difungsikan sebagai
café yang memuat tidak terlalu banyak pengunjung. Toko buku ini memiliki 2
lantai dan 1 basement (how cool is that?).
Mayoritas isi toko adalah buku berbahasa Belanda, dan sekitar 6 rak berisi buku
berbahasa Inggris.
Di alun-alun
atau Vrijthof, dimana terletak stadhuis atau town hall, terdapat bangunan menara gereja merah (diklaim merupakan
satu-satunya menara berbata merah yang ada di Belanda) dan bangunan stadhuis
kabarnya sering digunakan untuk acara pernikahan. Konon kabarnya, dengan
menaiki 250-an anak tangga menara gereja tersebut kita bisa melihat kota
Maastricht secara keseluruhan (saya sendiri belum pernah mencoba, lain waktu
mungkin).
Di sisi
yang berbeda dari Vrijthof adalah Markt. Nah ini adalah area favorit saya.
Tempat restoran-restoran berada. Kita bisa menemukan chinesse food, Burger
King, McDonald, KFC sampai mobil toko yang menjual berbagai macam makanan.
Favorit saya adalah mobil toko vishandel. Mobil toko ini menjual aneka gorengan
hasil laut yang enak. Dengan 3 euros kita bisa mendapat semangkuk mossel goreng
tepung yang enak, atau sandwich ikan goreng tepung dengan garlic sauce. Toko ini juga menjual ikan herring mentah yang
dimakan dengan irisan bawang Bombay. Ajaibnya rasanya gurih juga. Disamping
toko ini, berjajar pula mobil toko yang menjual ayam panggang, churros,
oliebollen (yang menjual kue sus, waffle etc) serta loempia! Termasuk juga freits atau kentang goreng yang dilumuri
mayonnaise khusus diklaim sebagai makanan khas dari propinsi Limburg (bukan
Holland, hehehe).
Sisi lain area
Markt adalah restoran pinggir jalan yang berjajaran dengan meja-meja outdoor yang sengaja diletakan diluar
supaya pengunjung bisa menikmati makanan sekaligus melihat pemandangan. Harga
makanannya tentu saja lebih mahal daripada mobil toko atau restoran cepat saji
lainnya.
Di
satu hari Jumat pada akhir bulan ketika saya sedang berjalan-jalan dan belanja
kebutuhan harian, saya menemukan rombongan Marching
Band keliling dengan pakaian tradisional dan panji bertuliskan “Mestreecht”
yang sepertinya ejaan lama dari Maastricht. Ternyata sudah menjadi tradisi
bahwa sekitar sebulan sekali marching band semacam itu akan berkeliling kota
Maastricht dan melewati jalan-jalan pertokoan dan jalan utama kota. Jika
beruntung, kita bisa menemukan barisan polisi dengan atraksi-atraksi yang
menarik. Dan ini dilakukan tiap bulan tanpa ada acara tertentu. Waw!
Berjalan ke
sisi lain dari Centrum, kearah gereja tua kita bisa menemukan gereja tua yang
bila diputari, akan ditemukan toko es krim enak bernama Luna Rossa. Toko ini
(dan satu butik pakaian) yang berada di Stokstraat sebenarnya adalah bagian
dari bangunan gereja yang diijinkan untuk dipergunakan secara komersial. Unik!Well, sebenarnya masih banyak sekali yang bisa dilihat lagi di kota ini. But so far, I like it here…and I want to know more about it…laters!




