Wednesday, February 06, 2013

A Trip to Mickey's House



Disneyland dan Disney Studio Paris memang dikenal dengan Euro Disney. Theme Park terbesar di Eropa. Sebenarnya di Perancis ada juga theme park lain yaitu Parc Asterix. Tapi sepertinya orang lebih mengenal Disney Paris sebagai tujuan wisata. Mungkin lain waktu saya akan mengunjungi Parc Asterix.
Oleh karena prinsip traveling saya adalah budget traveling yang murah tapi nyaman, saya pun melakukan riset beberapa hari untuk mendapatkan pengalaman travel yang saya inginkan.
Setelah dipertimbangkan, saya memilih perjalanan kombinasi yaitu; berangkat dengan bus dan pulang dengan kereta cepat (perlu diketahui bahwa urutan perjalanan termurah di Eropa adalah dengan bus, kemudian pesawat, dan terakhir dengan kereta cepat. Hal ini mungkin karena jalur perjalanan melalui bus dan pesawat lebih terbatas daripada kereta, meskipun secara urutan, perjalanan tercepat adalah dengan menggunakan pesawat, kereta cepat lalu kemudian bus).
Saya memilih Eurolines sebagai bus antar negara sebagai transportasi yang mengantarkan saya dari Maastricht ke Paris. Oleh karena pemberhentian bus Eurolines menuju Paris tidak terdapat di Maastricht, dan lokasi terdekatnya adalah di Eindhoven, maka saya menuju Eindhoven dengan kereta (sekitar 15,20 Euros naik kereta Intercity – jika kita memiliki kartu OV-Chip, yang hanya berlaku hanya bagi penduduk, kita bisa mendapatkan diskon 40%). Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam. Sebenarnya ada alternatif lain selain naik kereta yaitu naik bus, tapi mungkin perjalanannya 1 jam lebih lama. Oleh karena saya kuatir ketinggalan bus Eurolines, saya memilih untuk naik kereta.
Pemberhentian bus Eurolines itu berada persis di luar stasiun kereta Eindhoven (tidak terlihat halte, melainkan hanya tiang rambu bus, kursi tunggu dan letaknya persis ketika kita keluar dari stasiun menghadap stationplein). Eurolines juga bisa tidak tepat waktu. Waktu itu saya menunggu antara 10-15 menit sampai bus tiba. Tiket bus waktu itu saya beli online di http://www.eurolines.nl/ dengan harga 11 Euros. Perjalanannya pun sekitar 6 jam, melalui dan berhenti di kota-kota di Belgia seperti Antwerp dan Brussel. Bus nya cukup nyaman dengan toilet didalamnya (tapi saya tidak merekomendasikan menggunakan toilet tersebut, berdasarkan pengamatan wajah-wajah penumpang wanita yang baru keluar dari toilet). Waktu berhenti di kota-kota tersebut juga sekitar 15-20 menit (perlu dicatat pemberhentian di Antwerp dan Brussel agak sulit untuk menemukan toilet, jadi saya sarankan untuk tidak minum terlalu banyak untuk mengantisipasi keinginan ke kamar kecil).
Oleh karena saya berangkat sekitar jam 11 siang dari Eindhoven, maka sampai di Paris sekitar jam 5-5.30 sore. Eurolines berhenti di terminal bus besar di Paris. Dikarenakan tujuan utama saya adalah Disney Paris, maka dari situ saya langsung menuju statiun kereta Metro menuju hotel yang berlokasi tidak jauh dari Disney tentunya. Ongkos naik Metro dari pusat kota menuju Marne Valle sekitar 1,70 Euros.
Saya memilih hotel Residence Du Parc, yang berlokasi di Marne Valle (area yang sama dengan Disney Paris). Hotel berbintang 3 ini memiliki shuttle antar jemput ke Disney dengan membayar 7 Euros  per kamar. Hotel ini terbilang cukup bagus dan bersih (bentuk kamarnya seperti apartemen studio dengan dapur kering satu kompor dan peralatan makan standar serta lemari es), sayang tempat tidurnya berbentuk sofa bed, sehingga agak kurang nyaman untuk ditiduri. Tapi secara keseluruhan, hotel ini terbilang bagus (dan menyediakan wifi gratis dengan password yang harus di update secara berkala). Adapun rate  menginap di hotel ini adalah 63,33 Euros per malam.
Alternatif lain menuju Disney dari Residence Du Parc adalah dengan menaiki bus nomor 43.  Halte bus terletak persis di seberang jalan hotel. Ongkos dari hotel menuju Disney adalah 1,99 Euros dan berhenti persis di dalam pemberhentian bus di area Disney Park (Marne la Valle). Perlu diperhatikan bahwa pastikan bus yang akan kita tumpangi benar-benar berhenti di Halte tersebut.
Perjalanan dari hotel saya menuju Disney Paris sekitar 15 menit. Saya berangkat pagi-pagi dan berencana sarapan di dalam Disney. Disney Land buka dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam, sedangkan Disney Studio buka dari jam 10 hingga jam 7 malam. Untuk menghindari antrian panjang, sebaiknya memesan tiket melalui website http://www.fnactickets.com/place-spectacle/recherche-billet-disneyland-paris-marne-la-vallee.htm. Tiket masing-masing disney tersebut adalah 35 Euros. Hari pertama petualangan Disney saya, saya habiskan di Disney Land dengan mencoba beberapa permainan dan menonton parade Disney yang menyenangkan. Tidak lupa mengunjungi toko-toko oleh-oleh yang lucu dan menarik. Setelah puas mencoba beberapa wahana menegangkan, saya mengakhiri hari dengan menyaksikan pertunjukan kembang api di Disney Land pada jam penutupan sebelum kembali ke hotel.
Hari berikutnya saya habiskan di Disney Studio. Letak pintu masuk Disney Studio bersisian dengan pintuk masuk Disney Land (jangan sampai salah antrian, jika kita turun dari pemberhentian bus, termasuk juga stasiun kereta Marne Valle Disney Land, pintu pertama yang kita temui disebelah kanan adalah Disney Land, setelahnya adalah Disney Studio). Jangan sampai membuang waktu mengantri di pintu yang salah.
Banyak permainan bagi adrenaline junkie  yang sayang untuk dilewatkan dimana salah satu permainan yang paling menegangkan adalah Holywood Tower Hotel. Permainan tersebut terkenal menegangkan dengan menyajikan arena lift yang jatuh dari ketinggian tertentu dari lantai suatu hotel. Sayangnya saya tidak ada teman sependeritaan yang bisa saya ajak untuk menaiki wahana ini. Lain waktu, mungkin. Juga stuntman show yang sayang untuk dilewatkan. Tidak seperti Disney Land, Disney Studio tidak menyediakan pertunjukan kembang api pada jam penutupan.                                            
Karena ini merupakan pengalaman pertama saya ke Paris, sayang juga sepertinya jika tidak menyempatkan diri melihat menara terkenal Eifel. Setelah mencermati peta wisata yang saya peroleh dari hotel, saya pun berencana mengunjungi setidaknya tiga lokasi yang mudah terjangkau dengan Metro (mengingat saya hanya punya sekitar 3 jam sebelum saya mengejar kereta cepat Thalys untuk kembali ke Maastricht). Dengan berbekal peta ditangan, saya pun menyambangi Menara Eifel, Notre Dame (dimana saya mulai terinspirasi untuk mengoleksi koin-koin di tempat-tempat wisata yang saya kunjungi) dan Louvre (saya singgah untuk makan siang di semacam mal dibawah Louvre, Louvre Carrousel, tapi makanan food court-nya tidak saya rekomendasikan dikarenakan harganya yang mahal dan rasanya yang biasa-biasa saja). Perjalanan dari Marne Valle menuju pusat kota Paris adalah sekitar 30 menit dengan Metro (ongkos Metro tiap titik kurang lebih sama yaitu 1,70 Euros).                                                                                     
Sayang sekali saya tidak bisa berlama-lama berada di Paris. Setelah puas berfoto-foto ria, saya menuju Paris Nord, stasiun dimana kereta cepat Thalys membawa saya pulang melalui kota Liege di Belgia, untuk kemudian mengganti kereta menuju Maastricht tempat saya tinggal.







Sunday, December 30, 2012

Maastricht Centrum

Seeing is believing. Itulah prinsip saya ketika seseorang mengatakan bahwa sesuatu hal itu bagus.  Berdasarkan cerita yang saya dengar, Maastricht itu kota kecil yang bagus sekali. Populasinya yang mungkin hanya sebesar Jakarta Selatan dan bangunan-bangunan tua hampir di seluruh sisi kota membuat Maastricht menjadi kota yang unik. Jika seseorang bertanya; ‘dimana saya bisa menemukan museum di Maastricht?’ Jawabannya adalah ‘Maastricht itu adalah museum berbentuk kota’. Hal itu terbukti ketika saya keluar dari stasiun Maastricht setelah menempuh perjalanan dengan kereta dari Schipol selama kurang lebih 3 jam. Benar sekali, Maastricht memang bagus. 
Diklaim sebagai salah satu kota tertua dengan banyak sejarah, Maastricht merupakan daerah aneksasi yang berada di Propinsi Limburg (penduduk lokal kurang menyukai jika mereka dianggap adalah bagian dari Holland).
Demi melihat suasana kotanya, saya diajak berjalan kaki menuju apartemen kami (+ 1,26 km), menembus udara dingin sekitar 7-8 derajat celcius. Sempat shock juga karena suhu terakhir di Jakarta bisa sampai 33 derajat celcius, hehehe. Dari stasiun melewati jembatan besar (di Maastricht ada 4 jembatan besar peninggalan jaman dulu), bertemu pusat kota, melewati Vrijthof (alun-alun kota) melihat Markt (area restoran dan jajan) dan melintasi pertokoan modern tapi bertempat di gedung-gedung tua. Unik.
Setelah berhasil mengatasi shock karena dingin (sebenarnya 8 derajat celcius tidak seberapa, tapi kostum dan angin di jembatan tidak bisa saya antisipasi dengan baik sepertinya) dengan cara memasang electric heater di dekat muka, saya baru merasa nyaman (ditambah jetlag yang baru mereda sekitar 2 minggu). Besoknya saya mencoba jalan-jalan sendiri. Bermaksud melihat-lihat toko, dan saya menyukainya. Saya bisa menemukan toko-toko modern seperti Zara, Mango, H&M, Vero Moda, V&D, Bodyshop, Adidas etc tidak jauh dari apartemen (sekitar jalan Sporenstraat, dan Spillstraat). Jalan batu dan orang-orang yang ramah (dan suka bergaya juga) membuat saya kerasan. Toko-toko disini (saya rasa di beberapa negara eropa lainnya juga) buka pada hari Senin- Sabtu. Senin mulai jam 12 siang (kecuali supermarket) sampai jam 6 sore. Selasa-Rabu jam 11 siang sampai jam 6 sore, Kamis jam 11 siang sampai jam 9 malam, Sabtu jam 11 siang sampai jam 6 sore. Minggu tentu saja tutup (usahakan belanja makanan hari Sabtu atau sebelumnya kalau tidak mau kelaparan ketika akhir minggu). Tapi hari Minggu pertama tiap bulannya toko dibuka secara khusus. Jalan sedikit dari area pertokoan modern, terdapat toko buku besar yang didalamnya terdapat café. Uniknya toko ini berada dalam bangunan gereja tua yang sudah tidak dipakai untuk ibadah. Namanya Selexys Dominica, posisinya di Amadeusplein (depan toko pakaian Zara). Hebatnya desain bangunan gereja (sampai lukisan di langit-langitnya) tetap dipertahankan. Area altar gereja difungsikan sebagai café yang memuat tidak terlalu banyak pengunjung. Toko buku ini memiliki 2 lantai dan 1 basement (how cool is that?). Mayoritas isi toko adalah buku berbahasa Belanda, dan sekitar 6 rak berisi buku berbahasa Inggris.

Di alun-alun atau Vrijthof, dimana terletak stadhuis atau town hall, terdapat bangunan menara gereja merah (diklaim merupakan satu-satunya menara berbata merah yang ada di Belanda) dan bangunan stadhuis kabarnya sering digunakan untuk acara pernikahan. Konon kabarnya, dengan menaiki 250-an anak tangga menara gereja tersebut kita bisa melihat kota Maastricht secara keseluruhan (saya sendiri belum pernah mencoba, lain waktu mungkin).
Di sisi yang berbeda dari Vrijthof adalah Markt. Nah ini adalah area favorit saya. Tempat restoran-restoran berada. Kita bisa menemukan chinesse food, Burger King, McDonald, KFC sampai mobil toko yang menjual berbagai macam makanan. Favorit saya adalah mobil toko vishandel. Mobil toko ini menjual aneka gorengan hasil laut yang enak. Dengan 3 euros kita bisa mendapat semangkuk mossel goreng tepung yang enak, atau sandwich ikan goreng tepung dengan garlic sauce. Toko ini juga menjual ikan herring mentah yang dimakan dengan irisan bawang Bombay. Ajaibnya rasanya gurih juga. Disamping toko ini, berjajar pula mobil toko yang menjual ayam panggang, churros, oliebollen (yang menjual kue sus, waffle etc) serta loempia! Termasuk juga freits atau kentang goreng yang dilumuri mayonnaise khusus diklaim sebagai makanan khas dari propinsi Limburg (bukan Holland, hehehe).
Sisi lain area Markt adalah restoran pinggir jalan yang berjajaran dengan meja-meja outdoor yang sengaja diletakan diluar supaya pengunjung bisa menikmati makanan sekaligus melihat pemandangan. Harga makanannya tentu saja lebih mahal daripada mobil toko atau restoran cepat saji lainnya. 
Di satu hari Jumat pada akhir bulan ketika saya sedang berjalan-jalan dan belanja kebutuhan harian, saya menemukan rombongan Marching Band keliling dengan pakaian tradisional dan panji bertuliskan “Mestreecht” yang sepertinya ejaan lama dari Maastricht. Ternyata sudah menjadi tradisi bahwa sekitar sebulan sekali marching band semacam itu akan berkeliling kota Maastricht dan melewati jalan-jalan pertokoan dan jalan utama kota. Jika beruntung, kita bisa menemukan barisan polisi dengan atraksi-atraksi yang menarik. Dan ini dilakukan tiap bulan tanpa ada acara tertentu. Waw!
Berjalan ke sisi lain dari Centrum, kearah gereja tua kita bisa menemukan gereja tua yang bila diputari, akan ditemukan toko es krim enak bernama Luna Rossa. Toko ini (dan satu butik pakaian) yang berada di Stokstraat sebenarnya adalah bagian dari bangunan gereja yang diijinkan untuk dipergunakan secara komersial. Unik!
 
Well, sebenarnya masih banyak sekali yang bisa dilihat lagi di kota ini. But so far, I like it here…and I want to know more about it…laters!




Saturday, December 15, 2012

Finding Me, No? - the Beginning

2007-2012. Hehehe ternyata sudah lima tahun saya tidak pernah post apapun di blog ini...Hmm, kalau dirunut penyebabnya sepertinya lima tahun itu saya sedang mengalami transisi profesi. Jumping from some kinda licensed profession into something more different but still in the same industry. Dan ternyata belajar hampir lima tahun itu cukup, cukup menyita waktu dan perhatian, and yet still have a lot to learn hehehe...Tapi saya merasa pelajaran itu berharga (memang ada ya pelajaran yang tidak berharga?).

Buat saya pekerjaan itu adalah sarana menghidupi hidup, bukan hidup itu sendiri (mengutip kata bijak seseorang; "instead living, we are often being lived", ini yang saya hindari - akan saya share di post lain nanti). Tempat kerja adalah tempat belajar terbaik. Mungkin saya termasuk orang yang senang belajar dari pengalaman, belajar sambil bekerja. Bagi sebagian orang bekerja yang sesuai dengan passion itu penting. Sebagian lagi mengatakan; passion is overrated. Yang manakah saya? Kalau boleh jujur, saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu adalah, dimana pun saya bekerja, saya selalu berusaha semampu saya melakukan yang terbaik, memberi kontribusi sebanyak yang saya mampu dan menyerap ilmu yang banyak seperti spons. Bagi sebagian orang (sepertinya termasuk saya) sepertinya tujuan bekerja adalah pembuktian diri (bahwa kita bisa, at least survived with C- grade) dan imbalan kemudian. Namun yang terpenting dari semuanya adalah pengalaman itu sendiri. Setelah saya rasa saya melakukan itu semua, dan menemukan satu titik pencapaian pribadi tertentu (subjectively, of course) kemudian pertanyaannya adalah what's next?   
  
Sepertinya pertanyaan tersebut juga yang melatari keberadaan kami disini. Di sisi lain bumi, kurang lebih 10ribu kilometer dari kota (Jakarta bukan kampung ya sepertinya?) halaman. Ketika saya dan suami merasa stagnan dan start to lose ourselves, kami merasa bahwa kami harus melakukan suatu perubahan dalam hidup. Kami memulainya dengan bermimpi, mengatur rencana, melakukan persiapan, kemudian merealisasikannya. Well, to be honest; with him, it was always start with a dream...Mimpi ingin ini, dan mau itu.

Jujur saja, keberangkatan kami kesini meninggalkan seribu pekerjaan rumah, lima ratus pertanyaan dan seratus keragu-raguan. Hampir selama hidup saya, saya tidak pernah meninggalkan jauh keluarga saya (permanently). Mereka adalah satelit dalam rotasi bulan saya. Sempat bertanya sendiri; Apakah saya berhak untuk pergi? Will I make a wrong decision?

Namun saya dipertemukan dengan buku Novel Negeri Lima Menara (Ahmad Fuadi) yang memuat kutipan yang bagi saya konfirmatif; "Orang berilmu dan berada tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang" (Imam Syafii). Ditambah dukungan penuh dari satelit-satelit saya, berangkatlah kami.

Setelah berpisah satu setengah bulan dengan suami (untuk satu dan sekian alasan persiapan), saya tiba di kota kecil di selatan Belanda; Maastricht. Begitu melangkah keluar stasiun tua kota itu, saya langsung jatuh hati (mungkin saya akan post mengenai Maastricht nanti, kapan-kapan).



*itu hanya sebagian dari banyak bangunan kuno di kota ini, tapi hotel tua ini sudah pasti tertangkap mata ketika kita keluar dari stasiun Maastricht.

Setelah dua bulan berada di kota ini, lambat laun saya seperti menemukan kembali diri saya sendiri. Dengan banyak perenungan, diskusi dan pengamatan tentu saja. Barangkali saya bukan orang yang memiliki ambisi yang tinggi dalam hidup (call me a mediocre in goal achieving, if you must) tapi buat saya, berleha-leha itu mimpi (konsisten dengan status facebook saya "...bercita-cita bisa berleha-leha sepanjang hidup.." Hehehe...kidding. Seriously, cita-cita saya adalah menjadi orang yang kaya pengalaman hidup  and be happy, of course. Should it takes 10 thousands kilometers away from home, so be it.

Yang pasti saya dan suami sepakat bahwa perjalanan ini bertujuan mencapai cita-cita masing-masing bersama-sama. Prinsip kami adalah "We shall make the most of it, from this journey" and so we will. But most of all, hopefully we will find what we were looking for from this less than 12-month trip; ourselves.


 
  
   


Tuesday, February 20, 2007

Bus Khusus Wanita

Senangnya membaca berita tentang adanya bus khusus wanita di Pekanbaru...Jadi teringat jaman dulu ketika saya masih menikmati angkutan kota yang penuh sesak pada jam-jam tertentu itu... Duh, sedihnya...Bersikut-sikutan, terinjak-injak dan bahkan tidak jarang saya mendengar banyak sekali pelecahan seksual yang terjadi di kendaraan umum berasap tebal di Jakarta itu...saya pun pernah mengalaminya dulu....Mungkin tidak bisa dibilang parah ya, tapi aksi pegang memegang tangan si kondektur yang jelas-jelas sengaja sembari memberi kembalian itu tetap saja buat saya bisa dikategorikan pelecahan...Setidaknya membuat saya tidak nyaman berada disana lama-lama, rasanya ingin cepat-cepat sampai tujuan....Belum lagi dengan copet-copet yang berkeliaran (untungnya sampai sekarang saya belum pernah kena copet di bus)..tapi kisah-kisah teman-teman saya sudah cukup menjadi trauma buat saya...

Kapan ya Jakarta ada bus khusus wanita? Kalo perlu bus di Jakarta dibuat khusus wanita atau khusus pria saja....dipisahkan dari awal. Bagusnya sih supir dan kondekturnya juga wanita ya (tentunya kalo bus khusus pria supir dan kondekturnya pria juga dong). Pastilah si pengemudi wanita takkan se-ugal-ugalan pengemudi bus pria yang oleh Ibu saya sering disebut "setan jalanan"...Rute-rutenya bisa dipilih dibeberapa jalan utama di Jakarta
dulu deh...seperti rute yang dilintasi Transjakarta (Busway-red)....baru kemudian pelan-pelan menyingkirkan kendaraan umum lain yang tak kalah kacaunya seperti metromini dan kopaja (mohon maaf buat teman-teman yang sodara, om, tante, bude, pakde, uwa, aki, nini atau sapanya punya usaha atau pemegang saham di perusahaan metromini dan kopaja)..saya agak dendam dengan kendaraan umum itu...Rasanya kalo gak terpaksa, gak akan ada orang yang mau naik kendaraan umum itu, udah asapnya menggila, lajunya ugal-ugalan, pelecehannya banyak, baunyaaa.....ya ampun........bagusnya dimuseumkan ajalah kendaraan itu, ganti dengan bus khusus wanita atau pria kali yaa..

Kalo itu kejadian bener-bener, saya janji deh bakal naik bus khusus wanita itu sering-sering...seperti iseng-iseng saya coba naik Busway....walopun cuma 1 halte doang (basa basi banget) tapi ternyata cukup menjadi pengalaman yang menyenangkan buat saya..

Apa perlu Busway dibuat khusus wanita dan khusus pria? Hehehe..gak usah kejauhan kali ya mimpinya....satu-satu aja dulu....yang bus rute standar aja belom kesampean....Gimana Bang Yos yang bentar lagi mau lengser? Atau bapak-bapak calon gubernur? Ide saya bagus? Bagooooessssssss......Hehehe....

Wednesday, January 31, 2007

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (don't take it seriuosly please)

Saya mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga, haruskan saya laporkan ke komnas perempuan?

Horor itu terjadi pada saat menjelang tidur…rasanya setiap kali saya naik ke tempat tidur, perasaan saya sudah tak keruan….tolong, tolong jangan salah paham dulu…kekerasan ini bukan karena tindakan menyimpang suami saya terhadap kegiatan yang satu itu..melainkan murni kegiatan tidur beristirahat…

Baru saya ketahui bahwa ternyata suamiku punya kebiasaan tidur yang cenderung mengerikan…semi penyiksaan dan sedikit lebih halus dari penganiayaan (tentu saja kalian tidak perlu percaya 100% dengan bahasa yang saya gunakan ini) karena sebenarnya kebiasaan suami saya adalah menyikut dan menendang…ya : MENYIKUT DAN MENENDANG!!!!! Dengar kamu suamiku???? Mungkin karena dia seharian terlalu lelah atau (saya curiga) mungkin ternyata diam-diam dia menaruh dendam pada saya…(yang kata orang cenderung galak dalam kesehariannya, hehe)..maka pada saat-saat yang bisa dikatakan diluar kesadaranlah dia melampiaskan dendamnya itu pada saya…menyikut mata, rahang, pipi dan kepala saya….menendang punggung dan kaki saya semena-mena…sungguh penyiksaan yang sangat memilukan…

Tak jarang saya harus bangun tengah malam, membalas sikutan atau tendangannya…sedikit mengomel sebelum tertidur kembali….tapi lama-lama saya lelah…alhasil saya sempat kurang tidur dan terlihat sedikit lebih kurus ….betapa malangnya…..waktu beberapa kali saya mengeluh pada suamiku untuk menghentikan kegiatan sikut menyikut dan tendang menendang itu, dia mengaku tidak sengaja dan itu dilakukan diluar kesadarannya (o yea?) tapi akhirnya dia pun meminta maaf pada saya...namun namanya kebiasaan, susah untuk dihilangkan…..hhhh…nampaknya saya harus lebih sabar dalam beradaptasi…sejauh ini trik yang saya lakukan adalah: memberi sedikit jarak tidur beberapa puluh sentimeter, melindungi diri dengan bantal diantara kami berdua, dan memunggunginya (untuk menghindari penyikutan yang menyakitkan)…apalagi ya kira2 yang bisa kita lakukan? Saya nyaris putus asa……

Apakah ini yang namanya “membeli kucing dalam karung” baru ketahuan belakangan??

Tolong, untuk suamiku, hentikan penyiksaan ini….tidakkah kau lihat saya sudah cukup berubah setelah menikah dan mengurangi kegalakkan saya? Apakah kau benar-benar berniat untuk membalas dendam pada saya?

(this story is dedicated to my hubby.. no matter what you did to me in your sleep, the feeling is still the same anyway….saya cuma minta sedikit pengertian darimu…itu saja…tidak sulit bukan??)

Wednesday, November 22, 2006

10 Hari Lagi

10 hari lagi, jika Tuhan menghendaki, acara itu akan terjadi. Acara yang akan mengubah hidup saya. Suatu transaksi agama dan hukum, perjanjian yang mengikat saya seumur hidup. Untungnya perjanjian itu dibuat dengan orang yang memang saya pilih, saya inginkan….Yang menjadi ganjalan adalah banyaknya kerumitan-kerumitan tak penting yang tidak saya harapkan…Kami yang punya acara, yang menjadi tokoh utama disini malah seperti menjadi korban, lelah dengan tuntutan-tuntutan keluarga dan keinginan-keinginan orang lain. Banyak kekecewaan-kekecewaan kecil yang kami alami. Tapi tetap saja tidak mengurungkan niat kami untuk tetap melaksanakannya.

Ketika saya menanyakan apa yang paling dia tunggu-tunggu dari acara ini, ternyata jawabannya sama dengan saya; ‘acara cepat selesai dan kami bisa pergi melarikan diri (lagi)’…berlibur bersama dan bersenang-senang di pulau favorit kami itu…Pernah tercetus dari diri saya untuk membatalkan semua ini dan menjadikannya jauh lebih sederhana, tapi keterikatan dengan orang tua dan keluarga, menjadikan hal itu tak mungkin dilakukan. Banyaknya konflik dan kekecawaan yang terjadi membuat trauma tersendiri buat saya. Saya hanya ingin semua cepat selesai, tidak ada lagi keinginan memiliki acara yang sempurna yang kata orang selalu kita harapkan terjadi sekali dalam seumur hidup kita…

Pernah sekali waktu saya bertanya dan menyesali; kenapa kita musti melakukan semua ini? Saya sudah terbiasa bersama dengannya selama 8 tahun tanpa ada ikatan itu? Kenapa justru semua persiapan-persiapan ini membuat masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya? Saya merindukan rasa nyaman tanpa beban yang telah kami alami sejak 8 tahun yang lalu. Saya merindukan kegiatan kami selama menjalani hari-hari kami; jalan-jalan di mal, malam minggu yang diisi dengan nonton tivi hingga larut malam dan hobi kami mengunjungi 21 untuk menjadi bagian dari orang-orang pertama yang melihat film terbaru yang tayang atau sekedar makan malam kecil di tempat-tempat favorit kami. Meskipun kegiatan kami memang tidak istimewa, tapi saya cukup senang menjalaninya bersamanya….Dialah yang berkeras untuk tetap melaksanakan transaksi yang menghalalkan hal-hal yang sebelumnya diharamkan…niat baik itu pun sebenarnya saya setujui. Tapi saya ingin ritualnya disederhanakan sedikit, itu saja. Terlepas dari tradisi dan kelaziman, yang terpenting adalah ‘janji’ itu…yang lain tidak.

Tapi bagaimanapun, saya akan tetap menjalaninya. Sampai harinya nanti, saya hanya berharap dan berdoa, semoga semuanya bisa berjalan dengan baik…Amien.